Heboh Cewek SMK Nikah Dengan Bocah Baru Lulus SD

0
pernikahan dini di Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sumber: tribun bantaeng)

Pernikahan dini kembali menghebohkan masyarakat Indonesia bagian timur, tepatnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Kali ini bocah baru lulus SD menikahi pelajar SMK di Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.

Reski namanya, Bocah tersebut dilansir dari informasi tribun timur baru lulus SD umurnya baru 13 tahun. Mempersunting kekasihnya bernama Sarmila yang baru duduk di bangku kelas dua SMK di Bantaeng. Si cewek Sarmila baru berusia 17 tahun.

Mahar yang diberikan sang mempelai pria pun terbilang cukup besar yakni Rp56,5 juta. Pernikahan Reski dan Sarmila dilangsungkan di kediaman mempelai perempuan di Desa Bonto Marannu, Kamis, (30/8)

Pernikahan kedua sejoli itu pun tanpa sepengetahuan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Uluere Bantaeng.

Ayah Sarmila, Dg Pudding, mengungkapkan bahwa alasan keluarga menikahkan putri ketiganya atas permintaan anaknya sendiri. “Uang panaiknya Rp56,5 juta,” kata Pudding.

Atas pernikahan tersebut, Sarmila terpaksa putus sekolah lantaran ingin fokus mengurus rumah tangganya. “Saya mau berhenti sekolah, mau urus rumah tangga,” ucapnya.

Begitu pun suaminya, Reski, yang memilih menjadi petani untuk mencari nafkah buat istrinya. “Saya berkebun, bawang kentang dan lain-lain. Mau berhenti sekolah juga,” ujarnya.

Jika merujuk pada UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan, diatur pada pasal 7 ayat (1) bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas PMDPPPA, Syamsuniar Malik juga angkat bicara soal pernikahan dini tersebut.

“Ini tidak terlapor sehingga pernikahannya tidak tercatat di KUA. Kami menduga orangtuanya sudah tau bahwa akan ditolak saat mengajukan pernikahan,” ujarnya.

Syamsuniar juga mengaku tidak sempat mendeteksi pernikahan tersebut, sehingga tidak dilakukan pendampingan dan bimbingan untuk mengedukasi agar pernikahan tidak dilangsungkan.

Tak hanya itu, ia mengaku sangat menyayangkan pernikahan tersebut, karena selama ini pihaknya telah massif untuk sosialisasi.

“Saya sangat prihatin dengan pernikahan tersebut karena selama ini sosialisasi kami lakukan secara massif,” ujarnya.

Untuk berikutnya, PPPA Bantaeng pun mengaku bakal lebih massif sosialisasi untuk memberi pemahaman tentang hukum dan akibatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here