Gonjang-Ganjing Tuntutan SHM Warga Cepu; Kontributif  Ataukah Kontraproduktif?

0
Raut wajah seorang warga saat mengikuti unjuk rasa (Foto: istimewa)

Pers mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan masyarakat sebagai wadah informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Tapi yang tak kalah penting, Pers tetap sebagai wadah untuk mengutarakan permasalahan ataupun kebaikan antara pemerintah dengan masyarakat.

Selebihnya, Marilah kita tengok Gonjang-ganjing tuntutan warga yang terdiri dari Desa Wonorejo, Desa Tegalrejo, Desa Jatirejo, Desa Sarirejo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang berlanjut. Ribuan warga memadati jalan dari perempatan lampu merah Wonorejo. Dari persoalan ini, tentu harapannya bukan refleksi satire dari peribahasa “Gajah bertempur melawan gajah, Pelanduk mati di tengah-tengah”.

Baca Informasi Sebelumnya: Kabar Heboh, Ribuan Warga Blora Akan Gelar Aksi Demo Turun Jalan

Kemarin tepatnya pada hari Minggu  (10/3/2019) berhembus kabar, memang pemerintah melalui tangan-tangan Bupati Blora sudah mengupayakan negosiasi dengan ratusan warga sebagai bentuk pengutamaan pendekatan dalam merespon gonjang-ganjingnya masyarakat akan melakukan aksi turun jalan besar-besaran (demo).

Hari ini, tepatnya Senin (11/3/2019), karena merasa dibohongi oleh pemerintah, warga dari 4 desa tersebut mulai menggelar unjuk rasa memboombardir kebijakan yang tumpul kebawah, “Iya, kami merasa dibohongi puluhan tahun,” ujar Harpono Koordinator Aksi asal Cepu.

Bagi warga kawasan Wonorejo yang mempersoalkan permasalahan dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah Blora, Jawa tengah dan pemerintah pusat agar segera memberikan SHM (Sertifikat Hak Milik), gonjang-ganjing ini tentu menimbulkan keruwetan karena sejumlah kontradiksi yang harus dihadapi. Upaya melakukan akselerasi dan pendekatan pemerintah ke warga kawasan Wonorejo merupakan bagian dari bentuk tugas dan kewajiban pemerintah sebagai riuhnya.

“Tuntutan ini akan berlanjut jika nantinya pemerintah tidak ada kepastian, kami akan melakukan orasi bergelombang. Kita akan datangi kantor pemerintahan,” Kata harpono saat orasi.

Ketika akselerasi dan pendekatan tersebut ternyata dianggap bermasalah dan tak bisa segera menuntaskan dan menyelesaikan persoalan SHM, wajar dalam hal ini warga sampai berbondong-bondong aksi turun jalan.

Gonjang-ganjing ini, menurut pengamatan maupun pencermatan persoalan, pemerintah baik itu Blora, Jawa Tengah, maupun pusat, hendaknya dibingkai secara presisional untuk menemukan formula yang kontributif bukan sebaliknya, sebuah dinamika yang kontraproduktif apalagi destruktif terhadap upaya Blora memajukan daerah yang notabene warga banyak mengeluh tentang kebijakan.

Jika memang akselerasi dan pendekatan itu dianggap penting, pemerintah perlu menjadi jembatan solusi terbaik, yakni dengan beraninya seorang pemimpin mengambil langkah kongkrit apa yang diinginkan warganya.

Mewakili suara warga, Muhammad Husaini yang akrab dipanggil gus Husain saat diwawancarai banyak wartawan, ia membeberkan banyak persoalan yang terjadi.

“Dulu tahun ’90, sudah ada surat edaran kepada warga untuk pensertifikatan tanah Wonorejo dan sekitarnya atas intruksi Bupati pada waktu itu, ” terang Husain yang juga selaku pengasuh Ponpes Al Muhammad Cepu.

Masih kata Husain, selaku warga Wonorejo ia merasa ganjal tentang persoalan yang terjadi, “Kenapa kok persoalan ini tidak terealisasi?” tambah dia lagi.

Solusi keputusan permanen penting berdasarkan titik permasalahan yang ada, seperti halnya; tuntutan warga kawasan Wonorejo, masyarakat tahu keterbatasan kemampuan pemerintah dalam mengambil kebijakan, semua juga tahu bahwa alasan mengapa warga Blora timur sampai aksi turun jalan.

Dan hanya pada point inilah sebenarnya permasalahan ini muncul dan merebak menjadi gonjang-ganjing warga menuntut SHM. Pemerintah khususnya Pimpinan (bukan mewakilkan) perlu melakukan akselerasi dan pendekatan agar tidak dianggap hanya memprioritaskan dan mewakili program/ agenda yang dieluhkan dan disenangi. Ranah adanya Demo tentu bukan tujuan manakala pemilahan bagian dan proses warga tidak dibuat sulit atas persoalan yang ada. (*)

 

Penulis : Ahmad Adirin,  Pemimpin Redaksi Media Online www.kabarblora.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here